APAKAH ALLAH MENGAMPUNI PARA HAMBANYA YANG MUKMIN
PADA MALAM NISHFU SYA'BAN?
"لَيْلَةُ نِصْفِ شَعْبَانَ؟"
Dan Apakah Allah SWT Turun ke Langit Dunia pada
Malam Tersebut?
====
DI TULIS OLEH ABU HAITSAM FAKHRY
KAJIAN NIDA AL-ISLAM
<< DOWNLOAD PDF >>
===
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
====****====
APAKAH ALLAH MENGAMPUNI PARA HAMBANYA YANG MUKMIN PADA MALAM NISHFU SYA'BAN?
Dalam
Masalah ini terdapat beberapa hadits, akan tetapi para ulama banyak berbeda
pendapat terkait dengan keshahihannya.
****
Pertama: Riwayat Abu Musa al-‘Asy’ary
Dari
Abu Musa Al-Asy’ari, dari Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ
مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٌ
“Sesungguhnya
Allah SWT melihat pada waktu malam pertengahan Sya’ban, maka (Allah) mengampuni
semua makhlukNya kecuali orang musyrik atau orang yang bersengketa." (HR.
Ibnu Majah, 1390)
Kata “مُشَاحِنٌ = Musyaahin “, maksudnya adalah adanya permusuhan antara dia dengan saudaranya.
Dalam kitab “ مَجْمَعُ الزَّوَائِدِ” karya Ibnu Hajar al-Haitsami :
إِسْنَادُهُ ضَعِيفٌ؛ لِضَعْفِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ لَهِيعَةَ،
وَتَدْلِيسِ الْوَلِيدِ بْنِ مُسْلِمٍ.
“Riwayat
ini sanadnya lemah karena lemahnya Abdullah bin Lahi’ah dan tadlis-nya Al-Walid
bin Muslim.
Dan dalam hadits terdapa اِضْطِرَابٌ (simpang siur) yang dijelaskan oleh Ad-Daruquthni dalam kitab “الْعِلَلُ (6/50-51). Dia berkomentar tentang hadits ini, "Hadits ini tidak tetap (tsabit)."
Sementara Ibnul Jauzy dlm kitabnya “الْعِلَلُ الْمُتَنَاهِيَةُ” (2/561) mengatakan : “Tidak Shahih“.
Begitu juga Al-Imam adz-Dzahabi berkata dlm “تَلْخِيصُ
الْعِلَلُ الْمُتَنَاهِيَةُ” hal.
184 : “ di dalamnya terdapat Ibnu lahii’ah, dia itu dhoif “.
Syeikh
al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah 3/136 berkata:
قُلْتُ: وَهَذَا إِسْنَادٌ ضَعِيفٌ مِنْ أَجْلِ ابْنِ
لَهِيْعَةَ. وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَهُوَ ابْنُ عَرْزَبَ وَالِدِ الضَّحَّاكِ مَجْهُولٌ.
وَأَسْقَطَهُ ابْنُ مَاجَهْ فِي رِوَايَةٍ لَهُ عَنْ ابْنِ لَهِيْعَةَ
“Saya katakan: dan ini adalah sanad yang lemah karena ada Ibnu Lahi’ah. Sedangkan Abdurrahman, yang merupakan putra ‘Arzab dan ayahnya Ad-Dhahak, adalah tidak dikenal. Dan Ibn Majah meninggalkannya dalam salah satu riwayatnya dari Ibn Lahi’ah”.
Namun
hadits Abu Musa Asyari ini di hasankan oleh Syeikh al-Albaani dlm Shahih Ibnu
Majah no. 1148 dan al- Shahih al-Jaami’ no. 1819.
Dan
dalam as-Silsilah ash-Shahihah 3/135 no. 1144, syeikh al-Albani
menshahihkannya, beliau berkata:
حَدِيثٌ صَحِيحٌ، رُوِيَ عَنْ جَمَاعَةٍ مِنَ الصَّحَابَةِ
مِن طُرُقٍ مُخْتَلِفَةٍ يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا وَهُمْ مُعَاذُ ابْنُ جَبَلٍ وَأَبُو
ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو وَأَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ
وَأَبُو هُرَيْرَةَ وَأَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ وَعُوفُ بْنُ مَالِكٍ وَعَائِشَةُ
“Hadis shahih, diriwayatkan dari sekelompok sahabat dari berbagai jalur yang saling menguatkan, yaitu Mu’adh bin Jabal, Abu Tsalabah al-Khusyani, Abdullah bin Amr, Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, Abu Bakar ash-Shiddiq, Auf bin Malik, dan Aisyah”.
****
Kedua: Riwayat Muadz bin Jabal
Rosulullah
ﷺ bersabda
:
يطَّلِعُ اللهُ إلى خَلقِه في ليلةِ النِّصفِ مِن
شعبانَ فيغفِرُ لجميعِ خَلْقِه إلَّا لِمُشركٍ أو مُشَاحِنٌ
“Allah SWT melihat makhluknya pada waktu malam pertengahan dari bulan Sya’ban,
maka (Allah) mengampuni semua makhlukNya kecuali orang musyrik atau orang yang
bersengketa."
Diriwayatkan
dari hadits Muaz bin Jabal, Aisyah, Abu Hurairah, Abu Tsa’labah dan lainnya.
(akan tetapi) jalur periwayatan hadits ini tidak lepas dari adanya perselisihan
para ulama akan kehahihannya.
Adapun
Hadits Mu’adz Bin Jabal , maka al-Haafidz Ibnu Hajar al-Asqalaani dlm “الْكَافِي الشَّافِي” hal. 252 berkata :
رُوِيَ مِنْ حَدِيثِ أَبِي بَكْرٍ بِسَنَدٍ ضَعِيفٍ، وَعَنْ
عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ، وَفِي سَنَدِهِ ابْنُ لَهِيعَةَ، وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، وَفِي
سَنَدِهِ مَنْ لَا يُعْرَفُ
“Diriwayatkan
dari hadits Abu Bakar dengan sanad perawi yang lemah . Dan juga dari Auf bin
Malik, dan dalam sanadnya terdapat Ibnu Luhui’ah . Dan juga dari Abu Hurairah,
dan dalam sanadnya terdapat orang yang tidak dikenal“.
Al-Imam ath-Thabraani dlm “الْمُعْجَمُ الأَوْسَطُ” (7/36) berkata :
لَمْ يُرْوَ هٰذَا الْحَدِيثُ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ وَابْنِ
ثَوْبَانَ إِلَّا أَبُو خَلِيدٍ عُتْبَةُ بْنُ حَمَّادٍ، تَفَرَّدَ بِهِ عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ
هِشَامُ بْنُ خَالِدٍ.
Hadits
ini tidak ada yang meriwayatkannya dari Al-Awza'i dan Ibnu Tsawban kecuali oleh
Abu Khoolid Utbah bin Hammad. Dia sendirian meriwayatkannya dari Al-Awza'i
Hisham bin Khoolid “.
Namun
hadits riwayat Muadz bin Jabal ini di shahihkan oleh Ibnu Hibban dalam “صَحِيحُ ابْنِ حِبَّانَ” no. 5665 dan oleh al-Mundziri dalam “التَّرْغِيبُ
وَالتَّرْهِيبُ”
(2/132).
Al-Haitsami
dalam “مَجْمَعُ الزَّوَائِدِ” (8/68) berkata :
رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ فِي "الْكَبِيرِ" وَ"الْأَوْسَطِ"
وَرِجَالُهُمَا ثِقَاتٌ
“Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam "Al-Kabir" dan "Al-Awsath" dan para perawinya terpercaya”.
Dan juga di shahihkan oleh syeikh al-Albaani dlm kitabnya “إِصْلَاحُ الْمَسَاجِدِ” no. 99 dan Syu’aib al-Arna’uth dlm “تخريج صَحِيحُ
ابْنِ حِبَّانَ ” no.
5665 . Syeikh al-Albaani dlm kitabnya “صَحِيحُ
التَّرْغِيبِ” no.
2767 berkata : “ Hasan shahih “.
***
Ke tiga: Riwayat Katsir bin Murrah al-Hadhromi
Rosulullah
ﷺ bersabda :
فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللَّهُ
لِأَهْلِ الْأَرْضِ، إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
“Pada
waktu malam pertengahan Sya’ban, (Allah) mengampuni bagi para penduduk bumi
kecuali orang musyrik atau orang yang bersengketa." (HR. Al-Baihaqi dalam
“شُعَبُ الْإِيمَانِ” no. 3831). Dishahihkan oleh syeikh al-Baani dlm Shahih
al-Jaami’ no. 4268.
****
Ke-empat: Hadits Abu Tsa’labah al-Khuzyani
Rosulullah
ﷺ bersabda :
إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ
اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيُمْلِي لِلْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ
أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ
“Jika
datang malam pertengahan Sya’ban, maka Allah SWT melihat para makhluknya maka
(Allah) mengampuni orang-orang mukmin , dan mengulur-ulurkan orang-orang kafir
(dalam perbuatan dosa-dosanya ) , dan meninggalkan para pendengki dalam
kedengkiannya sehingga mereka meninggalkannya“.
(HR.
Ath-Thabraani 22/223 no. 590 dan Baihaqi dlm “شُعَبُ
الْإِيمَانِ” no.
3832 . Hadits Ini di Hasankan oleh Syeikh al-Albaani dalam “Shahih al-Jaami” no.
771).
Dan
Al-Mundziri menyebutkan dalam "At-Targhib" (3/283) bahwa Ath-Thabrani
dan Al-Baihaqi juga meriwayatkannya dari Makhrul dari Abu Tsalabah, dan
Al-Baihaqi berkata:
وَهُوَ بَيْنَ مَكْهُولٍ وَأَبِي ثَعْلَبَةَ مُرْسَلٌ
جَيِّدٌ
"Dan sanadnya antara Makhrul dan Abu Tsalabah mursal namun baik."
****
Ke Lima : Hadits Abdullah bin Amr :
Adapun hadits Abdullah bin Amr, maka diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah, dia berkata: “Haddatsana Hayyi bin Abdullah ‘an Abi Abdurrahman al-Habli ‘anhu.”
Diriwayatkan
oleh Ahmad (nomor 6642).
Syeikh al-Albani dalam ash-Shahihah 3/136 berkata :
قُلْتُ: وَهَذَا إِسْنَادٌ لَا بَأْسَ بِهِ فِي الْمُتَابَعَاتِ
وَالشَّوَاهِدِ، قَالَ الْهَيْثَمِيُّ: "وَابْنُ لَهِيْعَةَ لَيِّنُ الْحَدِيثِ
وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ وُثِّقُوْا". وَقَالَ
الْحَافِظُ الْمُنْذِرِيُّ: (3/283) "وَإِسْنَادُهُ لَيِّنٌ".
قُلْتُ: لَكِنْ تَابَعَهُ رُشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ بْنِ
حَيِّي بِهِ. أَخْرَجَهُ ابْنُ حَيُّوِيَّةَ فِي "حَدِيثِهِ". (3/10/1) فَالْحَدِيثُ
حَسَنٌ
“Saya katakan: dan ini adalah sanad yang tidak
apa-apa untuk mutaba’ah dan syawahid. Al-Haitsami berkata: “Ibn Lahi’ah lemah
dalam hadis, tetapi sisa perawinya terpercaya.” Dan Al-Hafizh Al-Mundhiri
berkata (3/283): “Sanadnya lemah.”
Saya katakan: tetapi ada pengikutnya, Rushdun bin Sa’ad bin Hayyi, yang meriwayatkannya darinya. Dikeluarkan oleh Ibnu Hayyuiah dalam “Haditsnya” (3/10/1), maka hadits ini termasuk hadits hasan”.
===***===
APAKAH ALLAH SWT TURUN KE LANGIT DUNIA
PADA
MALAM NISFU SYA’BAN?
Turunnya
Allah Ta’ala ke langit dunia tidak dikhususkan pada malam pertengahan Sya’ban,
bahkan dinyatakan dalam dua kitab Shahih (Bukhari dan Muslim) dan lainnya,
bahwa Allah Ta’ala turun ke langit dunia pada setiap malam di sepertiga akhir
malam. Dan malam pertengahan Sya’ban termasuk dalam keumuman ini.
Ketika
Abdullah bin Mubarok ditanya tentang turunnya Allah Ta’ala di malam pertengahan
Sya’ban, beliau berkata kepada penanya,
يَا ضَعِيفُ! لَيْلَةُ النِّصْفِ!؟ يَنْزِلُ فِي كُلِّ
لَيْلَةٍ.
"Wahai
orang lemah! Malam pertengahan (Sya'ban)?! (Yang benar adalah bahwa Allah)
turun pada setiap malam." (Diriwayatkan
oleh Utsman As-Shabuni dalam kitab ‘I’tiqad Ahlis Sunnah, no.92)
Al-Uqaili
rahimahullah berkata,
وَفِي النُّزُولِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
أَحَادِيثُ فِيهَا لِينٌ، وَالرِّوَايَةُ فِي النُّزُولِ كُلَّ لَيْلَةٍ أَحَادِيثُ
ثَابِتَةٌ صَحِيحَةٌ، فَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ دَاخِلَةٌ فِيهَا إِنْ شَاءَ
اللَّهُ.
"Terkait
masalah turunnya Allah pada malam pertengahan Sya’ban ada hadits-hadits yang
lemah hal tersebut. Adapun riwayat tentang turunnya Allah setiap malam terdapat
dalam hadits yang shaheh. Dan malam pertengahan Sya’ban termasuk di dalamnya
insya Allah." (Ad-Dhu’afa’, 3/29)
Ibnu
Rajab Al-Hanbali berkomentar:
وَفِي فَضْلِ لَيْلَةِ نِصْفِ شَعْبَانَ أَحَادِيثُ مُتَعَدِّدَةٌ،
وَقَدِ اخْتُلِفَ فِيهَا، فَضَعَّفَهَا الْأَكْثَرُونَ، وَصَحَّحَ ابْنُ حِبَّانَ بَعْضَهَا.
“Tentang
keutamaan malam pertengahan Sya’ban terdapat banyak hadits, akan tetapi banyak
perselisihan. Kebanyakan (ulama) melemahkannya, sebagiannya dinyatakan shahih
oleh Ibnu Hibban” ( Baca : “لَطَائِفُ الْمَعَارِفِ” hal. 261)
Semoga bermanfaat. Amiiin
MALAM PERTENGAHAN SYA’BAN
TIDAK ADA PENGKHUSUSAN
DALAM BERIBADAH
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Alhamdulillah.
Tidak ada riwayat shahih dan marfu dari Nabi ﷺ tentang
keutamaan nishfu (pertengahan) Sya'ban yang dapat diamalkan dan layak dijadikan
pedoman, bahkan untuk masalah keutamaan sekalipun.
Yang
ada hanyalah atsar (riwayat) dari sebagian tabiin yang maqtu (terputus
riwayatnya), atau hadits-hadits yang derajat paling kuatnya adalah palsu atau
sangat lemah.
Riwayat-riwayat
semacam ini memang sudah terlanjur dikenal di banyak negara yang kaum muslimnya
masih diliputi kebodohan, yaitu (atsar yang menunjukkan) bahwa pada waktu ajal
dan umur ditetapkan, dan lain-lain.
Dengan
demikian, maka tidak diperintahkan menghidupkan malam dan siang dengan berpuasa
(secara khusus di malam ini), tidak juga mengkhususkannya dengan ibadah
tertentu. Banyaknya orang yang belum tahu melakukan hal itu, tidak dapat dijadikan
pedoman.
Wallallahu’alam
Syekh Ibnu Jibrin mengatakan.
حُكْمُ قِيَامِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ
فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ
مِنْ شَعْبَانَ كَمَا يَقُومُ فِي غَيْرِهَا مِنْ لَيَالِي الْعَامِ ـ دُونَ زِيَادَةِ
عَمَلٍ وَلَا اجْتِهَادٍ إِضَافِيٍّ، وَلَا تَخْصِيصٍ لَهَا بِشَيْءٍ ـ فَلَا بَأْسَ
بِذَلِكَ، وَكَذَلِكَ إِذَا صَامَ يَوْمَ الْخَامِسَ عَشَرَ مِنْ شَعْبَانَ عَلَى أَنَّهُ
مِنَ الْأَيَّامِ الْبِيضِ مَعَ الرَّابِعَ عَشَرَ وَالثَّالِثَ عَشَرَ، أَوْ لِأَنَّهُ
يَوْمُ اثْنَيْنِ أَوْ خَمِيسٍ إِذَا وَافَقَ الْيَوْمُ الْخَامِسُ عَشَرَ يَوْمَ اثْنَيْنِ
أَوْ خَمِيسٍ، فَلَا بَأْسَ بِذَلِكَ إِذَا لَمْ يَعْتَقِدْ مَزِيدَ فَضْلٍ أَوْ أَجْرٍ
آخَرَ لَمْ يَثْبُتْ.
Hukum melaksanakan qiyamul lail pada malam pertengahan bulan Sya’ban.
”Kalau
ingin menunaikan (suatu amalan) pada malam nishfu Sya’ban seperti menunaikan
pada hari-hari lainnya – tanpa ada tambahan amalan tertentu dan ijtihad
tambhan, juga tidak mengkhususkan sesuatu untuknya - maka hal itu tidak lah
mengapa.
Begitu
juga kalau berpuasa pada hari kelima belas bulan Sya’ban bahwa, dengan anggapan
bahwa waktu itu termasuk ayyamul biidh disertai dengan (puasa) hari keempat
belas dan ketiga belas.
Atau
karena hari Senin atau Kamis bertepatan dengan hari kelima belas (lalu dia
berpuasa pada hari itu), maka hal itu tidak mengapa, jika tidak berkeyakinan
ada tambahan keutamaan atau pahala lain yang tidak ada ketetapannya.
Wallallahu
ta’ala a’lam
0 Komentar